Koyak Nilai Kemanusiaan, PP MADANI Kutuk Aksi Terorisme

0
307
Pengurus Pusat Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (PP MADANI). (Foto: HM/Alf)

JAKARTA – Pengurus Pusat Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (PP MADANI) mengutuk keras aksi teror bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, ledakan di rusunawa, Sidoarjo dan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur.

Sekretaris Umum PP Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (MADANI) Syarifuddin alias Ending menyatakan, rentetan teror bom bunuh diri di Surabaya menunjukkan jika radikalisme yang mengatasnamakan agama adalah fakta, dan bukan fiksi.

“Fakta yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan kita dan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin,” kata Ending, di Jakarta, Senin (14/5/2018).

Karena itu, PP MADANI mengutuk keras segala bentuk terorisme dan radikalisme. Semua agama termasuk Islam, terang Ending, tidak ada satupun yang mengabsahkan tindakan kekerasan dengan cara menebar kebencian dan teror.

Di samping itu, PP MADANI menyampaikan ucapan dan rasa duka mendalam terhadap para korban, baik korban meninggal maupun korban yang mengalami luka-luka akibat terkena ledakan bom bunuh diri.

“Semoga suratan takdir ini akan semakin memperkuat iman dan keikhlasan diri, serta menjadi pelajaran dan semangat berharga untuk semakin menumbuhkan semangat damai dan anti kekerasan,” ujarnya.

PP MADANI juga mendesak perlunya diambil langkah strategis dan sistematis dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme di Indonesia, khususnya mempertegas dukungan banyak pihak dalam mempercepat UU anti Terorisme.

“Meminta semua pihak, khususnya tokoh publik baik dari partai politik, pejabat pemerintah dan pimpinan ormas untuk membangun komitmen bersama menciptakan rasa aman dengan membuat statemen yang tidak memperkeruh keadaan,” ucapnya.

Tak hanya itu, PP MADANI mendukung setiap upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, Kemendikbud dan Kemendikti, melakukan penguatan dakwah dan pendidikan Islam yang damai dan anti kekerasan, serta selaras dengan semangat hidup bersama dalam bingkai NKRI.

Langkah tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkuat aparat terkait seperti para penyuluh agama, guru agama dan dosen agama, baik itu di sekolah-sekolah, Perguruan Tinggi Agama, pondok pesantren dan Perguruan Tinggi umum.

Seperti diketahui, dalam dua hari ini telah terjadi serangkaian ledakan bom di Jawa Timur, yakni ledakan bom di tiga gererja di Surabaya, Minggu (13/5), lalu di Rusunawa Sidoarjo. Pagi ini, Senin (14/5), teror bom menyasar Markas Polrestabes Surabaya. (tj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here