Arwani Thomafi: Proxy War Mengancam Ideologi Negara

0
364
Seminar Kebangsaan dan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertajuk “Aktualisasi Gerakan dan Pemikiran Kiai Hasyim Asy’ari” di Hotel Quds Royal Surabaya, Sabtu (31/3/2018). (Foto: HM/Alf)

SURABAYA – Ketua Fraksi PPP MPR RI M Arwani Thomafi mengingatkan, ancaman nyata yang dihadapi Indonesia saat ini adalah perang tanpa bentuk atau ‘proxy war’. Perang model ini dinilai mengancam ideologi negara dan kebudayaan nasional.

“Perang tanpa senjata ini nyata dan harus disikapi dengan serius dan bijak,” kata Arwani dalam Seminar Kebangsaan dan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertajuk “Aktualisasi Gerakan dan Pemikiran Kiai Hasyim Asy’ari” yang digelar di Hotel Quds Royal Surabaya, Sabtu (31/3/2018).

Lebih lanjut Arwani menjelaskan, proxi war tak hanya mengancam ideologi negara, tapi juga ketahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berbagai tantangan kebangsaan itu muncul seiring perkembangan zaman.

Menurut dia, perkembangan zaman yang begitu dinamis menjadikan persoalan yang muncul juga mengalami perubahan pola dan tantangan. Persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan dikatakan terus mengalami tantangan setelah 73 tahun kemerdekaan dan 20 tahun reformasi.

“Salah satunya yakni keberadaan tekhnologi informasi yang mengalami perkembangan yang massif dalam satu dekade terakhir ini telah memberi dampak positif dan negatifnya,” jelasnya.

Kendati harus menghadapi tantangan zaman yang berbeda dari periode sebelumnya, bukan berati spirit yang muncul dari para pendiri bangsa (founding fathers) dan para pahlawan kemerdekaan negara ini tidak lagi kontekstual untuk merespons berbagai tantangan tersebut.

“Aktualisasi gerakan dan pemikiran para pendiri bangsa tersebut relevan dalam merespons berbagai tantangan yang muncul belakangan ini,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR RI itu menyebutkan, salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia dan perkembangan Islam di Indonesia tak lain adalah Rois Akbar Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Peristiwa penting dalam perjalanan republik ini, termasuk kaitannya dengan keberadaan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kiprah Kiai Hasyim,” ucapnya.

Dia menambahkan, peristiwa penting lahirnya organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 serta resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 menjadi titik tolak penting dalam rangka aktualisasi gerakan dan pemikiran Kiai Hasyim dalam merespons persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan yang muncul saat ini.

“Sedikitnya terdapat dua hal penting dari Kiai Hasyim, yakni soal persatuan dan cinta tanah air,” imbuhnya.

Seminar ini digelar oleh Fraksi PPP MPR RI bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE). Selain Arwani, hadir sebagai narasumber KH Mujahid Ansori Prof DR Hamid, MH, Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UNESA Surabaya Chairul Saleh Rasyid. (alf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here