Pelayaran Maut di Daerah Kepulauan

0
880
KM Karamando dari Ternate tujuan Jailolo tenggelam di perairan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Akibat dari musibah ini, Empat orang tewas. (INT)

TRAGEDI KM KARAMANDO

Wilayah Kepulauan Dengan Sistem Transportasi Laut yang Mengkhwatirkan

Kamis 29 Desember 2016, sekira pukul 08.30 WIT, sebuah Kapal Motor berbahan kayu melepas tambatan tali dari Dermaga Dufa-Dufa, Kota Ternate. Diikuti aba-aba dari Anak Buah Kapal (ABK), KM Karamando yang dinakhodai La Musa (41) mulai bergeser jauh dari pertepian dermaga. Kapal melaju pelan membela laut meninggalkan Ternate.

Kapal yang akan memasuki batas waktu operasi (docking) tersebut, berlayar membawa ratusan penumpang, menuju Pelabuhan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Sesuai jadwal, kapal akan tiba di Pelabuhan Jailolo pada pukul 10 .30 WIT.

Seperti biasa, beberapa menit sebelum kapal berlayar, petugas pelabuhan akan kembali melakukan kroscek setiap dokumen – dokumen kapal. Mulai dari jumlah manivest penumpang hingga perlengkapan kapal. Sesuai data manivest yang dikantongi petugas pelabuhan, jumlah menumpang yang ikut berlayar bersama KM Karamando sebanyak 50 penumpang (data manivest). Namun, informasi yang diperoleh berbeda. Desas desus yang berkembang menyebut 90 orang, dan bahkan di atas dari jumlah tersebut.

MEMILIH BERLAYAR TANPA KARCIS

Di Pelabuhan Dufa-Dufa Ternate, calon penumpang kapal laut, rute Ternate – Jailolo (PP) kerap menaiki kapal tanpa karcis. Dalam penelusuran Haluanmerdeka.com, calon penumpang lebih memilih membayar langsung tarif tiket di ABK ketika tiba waktu penagihan karcis.

Salah seorang warga Ternate, Abdul Hamid yang sering pulang pergi Ternate – Jailolo menuturkan, biasanya, penumpang membayar langsung ke ABK. Hal itu dinilai lebih murah, ketimbang membeli karcis ke petugas loket. “Praktek tersebut sudah berlangsung lama,” ucap pria yang berkantor di lingkup Pemerintahan Kabupaten Halmahera Barat ini.

Ia menjelaskan, untuk tarif karcis tujuan Ternate – Jailolo (PP) sebesar Rp40.000. Sementara, jika membayar langsung ke ABK sebesar Rp25.000 hingga Rp30.000. “Tidak hanya di Ternate. Di Pelabuhan Jailolo pun begitu,” katanya.

Senada, salah seorang ABK kapal rute Ternate – Jailolo, yang tidak bersedia disebutkan namanya membenarkan hal tersebut. Alasannya sederhana, itu wewenang petugas dan nakhoda. “Dokumen – dokumen kan mereka yang pegang. Kami tidak berhak menurunkan penumpang tanpa karcis. Apalagi, jumlah kapal dan speed selau bersaing dalam memperoleh penumpang,” akunya.

KAPAL TUA MELAWAN BADAI

Selang beberapa jam kemudian, KM Karamando yang membawa 110 penumpang itu, dikabarkan tenggelam tepat di depan Desa Tauro, sekira 14 Mil atau 1,5 jam dari Pelabuhan Dufa-Dufa Ternate. Pukul 12 WIT, kapal patroli milik KPLP, KNP 5001 dan KNP 358 bersama kapal dari Basarnas dan sejumlah speedboat dari Jailolo, tiba di lokasi melakukan evakuasi.

Pukul 14.00 WIT, kapal berkapasitas 104 Gross Tonnage (GT) dengan kapasitas penumpang 120 orang yang diadakan pada Tahun 1994 dan dikelolah salah satu perusahaan angkutan laut nasional itu karam ke dasar laut. Atas musibah itu, 4 penumpang ditemukan tewas, 99 dirawat di RSUD Jailolo, sedangkan 7 orang lainnya langsung pulang ke rumah, usai dievakuasi. Berdasarkan informasi dari pihak yang berwenang, kapal dihantam ombak setinggi 4-5 meter tepat di depan Desa Tauro, Kabupaten Halmahera Barat, sesaat sebelum tiba di Pelabuhan Jailolo.

KESAKSIAN JURUMUDI SPEEDBOAT

Salah seorang jurumudi speedboat rute Ternate – Jailolo (PP), Bahrun mengaku, mereka sempat berpapasan dengan kapal naas tersebut, tepatnya di depan Pulau Hiri dengan kondisi gelombang 3 – 4 meter. Ia mengatakan, saat itu haluan kapal langsung berhadapan dengan gelombang.

Kapal, kata dia, terlihat seperti diangkat naik turun berkali – kali. Hingga pada akhirnya, kapal terlihat tidak bergerak sama sekali. Diduga, mesin mati (engine off). “Kalau mesin mati tentu kapal tidak bisa dikendalikan. Lambat laun kapal dalam posisi melintang. Lambung kapal terlihat dihantam ombak berkali – kali,” katanya.

Diketahui, hantaman gelombang tersebut menyebabkan papan – papan kapal terlepas. Air laut pun merambat masuk ke lambung kapal, hingga menyebabkan kapal karam.

PERBEDAAN DATA MANIVEST, TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN

Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kota Ternate, Hengky Mainassy, kepada Haluanmerdeka.com mengatakan, perbedaan data manivest penumpang adalah tanggungjawab perusahaan pelayaran. “Langsung tanya ke perusahaan yang bersangkutan. Dan juga nakhoda,” tandasnya.

Saat itu, kata dia, kapal dalam kondisi layak berlayar. Namun tepat di depan Desa Tauro, Kabupaten Halmahera Barat, kapal diterjang gelombang tinggi. Mesin pun mati. Akhirnya, air pun merambat masuk ke lambung kapal hingga tenggelam.

KETERLAMBATAN INFORMASI CUACA SEBAGAI FAKTOR UTAMA

Ia mengatakan, sesuai prosedur, petugas pelabuhan selalu berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah Maluku Utara. Para nakhoda selalu diberitahu kondisi cuaca di sekitar perairan Maluku Utara.

Menurutnya, laporan cuaca dari BMKG biasanya baru diterima KSOP pada jam 12 siang. Sehingga, ia beranggapan jika informasi cuaca dikeluarkan sejak 29 Desember dengan rentang waktu pukul 09,00 pagi hingga pukul 9 malam maka, sebelum waktu keberangkatan, pihaknya sudah dapat mengkonfirmasi nakhoda kapal untuk tidak melakukan pelayaran.  “Karena sesaat setelah KM Karamando berlayar meninggalkan Pelabuhan Dufa – Dufa Ternate, tiba – tiba angin kencang. Sementara yang termuat dalam reaning saat itu, tinggi gelombang 50 cm sampai 1,25 m. Otomatis kita juga tidak tahu dan tidak memiliki waktu untuk melarang mereka berlayar,” katanya.

Ia mengaku, dalam reaning yang diterima KSOP pada 29 Desember 2016, ketinggian gelombang di wilayah Maluku Utara mencapai 2,5 meter. Ketinggian gelombang seperti ini masih dinilai stabil. Apalagi, body kapal cukup besar dan masih layak berlayar.

Sesuai Standar Operation Prosedure, kata dia, sebelum kapal berlayar, pihaknya melakukan pengecekan di lapangan. Mulai dari fisik kapal, jumlah pelampung, sertifikat kapal, dan beberapa perangkat keselamatan lainnya. “Itu harus berlaku,” katanya.

Menanggapi foto-foto korban tewas yang tidak mengenakan lift jacket, ia menandaskan, saat itu jumlah pelampung (lift jacket) KM Karamando sebanyak 175 buah. 150 untuk orang dewasa dan 25 untuk anak – anak. Ditambah dengan 10 unit rakit. Dalam 1 unit rakit, dapat memuat 6 orang. “Sudah berapa, ayo, coba hitung. Banyak kan,” katanya.

Atas perihal itu, Haluanmerdeka.com mencoba mengkonfirmasi Kepala BMKG Wilayah Maluku Utara, Sulimin dan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kota Ternate  Faruk Albaar. Namun upaya tersebut gagal.

Sebelumnya, speed Bintang Fajar rute Jailolo – Ternate (PP) mengalami musibah, tak jauh dari pelabuhan speed Jailolo. Rentang waktu kejadian antara speed Bintang Fajar dan KM Karamando cukup dekat. Dimana, speed mengalami kebakaran hebat.

 

(Laporan BMKG Wilayah Maluku Utara dalam laman resminya : Selamat siang, dengan hormat kami sampaikan prakiraan cuaca dan prakiraan gelombang wilayah pelayanan, berlaku mulai tgl 28 Desember 2016 pkl.09.00 WIT s/d 31 Desember 2016 pkl 09.00 WIT. Terima kasih).

HADIRKAN DUA KAPAL BESI SEBAGAI SOLUSI

Atas musibah itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Hamahera Barat akhirnya mendatangkan dua unit kapal motor untuk rute Jailolo – Ternate (PP). Dimana, dua kapal dengan nama KM Aksar Saputra 06 dan KM Ajul Safikran itu resmi beroperasi Jumat 6 Januari 2017 kemarin.

Peresmian yang dilakukan di Pelabuhan Jailolo, Desa Gufasa, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat itu dihadiri Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba bersama Bupati Halmahera Barat Danny Missi dan Wakil Bupati Halmahera Barat Ahmad Zakir Mando, serta dihadiri Walikota Tidore Kepulauan Capten Ali Ibrahim beserta seluruh jajaran muspida di wilayah setempat. Usai peresmian, Gubernur beserta rombongan ikut berlayar meninggalkan Pelabuhan Jailolo menuju Pelabuhan Dufa – Dufa Ternate dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 20 menit.

Gubernur Abdullah Gani Kasuba mengaku bangga atas kerjasama antara Walikota Tidore dan Bupati Halmahera Barat dalam menghadirkan dua kapal tersebut. Ia berharap, kehadiran dua transportasi itu dapat memberikan rasa aman dan nyaman terhadap penumpang yang menggunakan transportasi laut.

Sementara, Bupati Halmahera Barat Danny Missi mengatakan, kecelakaan Speed Bintang Fajar dan KM Karamando menjadi catatan penting. Ia meminta, kehadiran dua kapal tersebut jangan dipolitisir. Karena ini menyangkut kebutuhan masyarakat.

Ia mengaku, sejak cuaca buruk yang melanda perairan Maluku Utara, selama dua minggu, hasil pertanian Kabupaten Halmahera Barat tidak dapat dibawa keluar. Sehingga, diharapkan kehadiran dua kapal tersebut menjadi solusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

NAKHODA DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA

Insiden yang menewaskan 4 orang penumpang itu, tim penyidik Direktorat Polisi Perairan Polda Maluku Utara melakukan pemeriksaan terhadap 15 orang saksi, yang terdiri dari ABK Kapal, para korban dan sejumlah pihak terkait. “Akhir pemeriksaan, kami menetapkan Nakhoda KM Karamando, La Musa (41) sebagai tersangka,” ucap Dir Polair Polda Malut Kombes Pol Arif Budi Winova, Jumat (20/1/17).

Arif mengatakan, dalam penanganan kasus tersebut, pihaknya mengunakan pasal 302 dan 312 peraturan Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran. “Maka dari itu nahkoda kapal harus bertanggung jawab atas peristiwa itu,” tandasnya. (TIM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here